Rencana

RENCANA PENANGANAN ENDAPAN DI MUARA KALI PORONG

Dipublikasikan tanggal .

Penanganan aliran lumpur di muara agar tidak mengendap pada alur sungai dilakukan dengan pengerukan alur di muara sungai, membangun jetty untuk mengendalikan aliran lumpur dan melindungi alur yang sudah dibuat, serta memanfaatkan hasil pengerukan dan sebagian lumpur untuk mereklamasikan daerah pantai.

Reklamasi daerah muara Kali Porong dari hasil pengerukan dan endapan lumpur dimaksudkan agar kondisi lingkungan di daerah tersebut menjadi lebih baik sehingga dapat memberikan nilai tambah, khususnya dapat menambah penyediaan lahan. Di wilayah yang telah selesai direklamasi akan ditanami mangrove agar aneka biota laut (kepiting, udang, ikan bandeng, dlsb) dapat lebih berkembang.


Pengerukan alur di muara sungai dilakukan agar lumpur yang terbawa aliran dapat masuk ke palung laut dalam. Lokasi yang memenuhi persyaratan untuk pembuangan lumpur di laut adalah di Selat Madura terutama di daerah low energy dan morfologi yang cekung pada kedalaman 20 – 60 meter yang berjarak sekitar 1 – 3 km dari garis pantai muara Kali Porong.

Alur yang sudah dikeruk dan area pembuangan (spoilbank) akan terlindung dengan adanya bangunan jetty sehingga hasil pengerukan alur dan sebagian lumpur dapat terkumpul dengan aman dalam area pembuangan (spoilbank).

RPEM01

RPEM02

Kecepatan aliran banjir mendekati muara akan berkurang karena terhambat oleh pasang surut permukaan air laut. Kondisi ini menyebabkan lumpur akan mengendap dan dapat mengurangi kelancaran aliran banjir Kali Porong. Kegiatan pengerukan berupa pembuatan alur sungai sampai ke palung laut, sehingga lumpur dapat mengalir lancar dan tidak terjadi sedimentasi di lokasi muara.

RPEM03

Selama ini garis pantai delta Kali Porong selalu mengalami penambahan ke arah laut. Hal ini terjadi karena adanya pola aliran arus laut menyusur pantai dari arah Surabaya menuju Pasuruan yang membawa sedimen.

Untuk mengarahkan lumpur ke laut dalam dan mencegah alur sungai yang telah dikeruk tertutup kembali oleh aliran endapan yang datang dari utara, maka dibangun jetty. Konstruksi jetty berupa tumpukan karung geotextile yang dibentuk seperti guling dan diisi pasir.  Bangunan jetty diperkuat dengan pelindung jetty yang terbuat dari plat beton ukuran 60cm x 30cm x 7,5cm yang dirangkai.

Reklamasi dilakukan dengan mendayagunakan padatan hasil pengerukan alur sungai Kali Porong di muara dan sebagian endapan lumpur, ditempatkan di dasar laut di tepi pantai yang memiliki kecenderungan menjadi dangkal dan airnya selalu keruh, sehingga di tempat itu tidak tumbuh terumbu karang. Kegiatan reklamasi pantai muara Kali Porong sesuai dengan karakteristik perairan setempat yang cenderung menjadi daratan, karena pengendapan sedimen secara alami. Upaya yang dilakukan hanyalah mempercepat proses sedimentasi melalui mekanisasi.

Hasil pengerukan alur sungai dan muara Kali Porong dibuang di lokasi spoil bank dan menjadi sebuah hamparan reklamasi baru seluas ± 90 ha., yang untuk sementara diberi nama “Tanjung Lumpur”. Hamparan baru ini akan dimanfaatkan sebagai lahan kering dan lahan basah yang ditanami tanam-tanaman, antara lain tanaman mangrove.

Setelah sebagian proses reklamasi terealisasi, dilakukan pembuatan percontohan Wanamina bekerjasama dengan Balai Riset dan Observasi Kelautan (BROK), sekarang nomenklatur namanya berubah menjadi Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL), Perancak, Bali. Wanamina (sylvofishery) adalah perpaduan antara kegiatan budidaya perikanan dengan kegiatan kehutanan (mangrove) dalam suatu wilayah dan waktu yang sama. Wanamina merupakan pola pendekatan teknis yang berusaha mengatasi permasalahan kelestarian hutan mangrove dan kesejahteraan masyarakat.

Di samping mempunyai fungsi dan manfaat fisik untuk pengendalian abrasi dan mengurangi penyusupan (intrusi) air laut ke wilayah daratan, mangrove juga mempunyai fungsi dan manfaat ekonomi  (kayu, kulit kayu, arang, bahan kertas, bahan makanan dan obat, pendidikan dan rekreasi) serta ekologi (asimilasi, biodiversity, dan eko-wisata). Selain itu, mangrove juga  merupakan sumber unsur hayati bagi kehidupan biota laut, serta sumber pakan bagi kehidupan biota darat seperti burung, mamalia dan reptil. Total, lebih dari 70 macam produk langsung dan tak langsung mangrove yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Dalam pengembangan wanamina, direncanakan 20% untuk empang/lahan berair dan 80% untuk tanaman mangrove.

RPEM04

RPEM05

IImplementasi percontohan Wanamina di lokasi spoilbank direncanakan terdiri dari 3 bagian (kotak), yakni Kotak A seluas 2.684 m2 (wanamina), Kotak B seluas 3.641 m2 (wanamina), dan Kotak C seluas 3.635 m2 (kolam saja). Pada percontohan wanamina, direncanakan akan dilakukan pembibitan mangrove sebanyak + 15.000 bibit.