SEMBURAN LUMPUR PANAS SIDOARJO
- Details
- Dipublikasikan pada Jumat, 20 Maret 2009 12:48
Sumur Eksplorasi Banjarpanji-1
Banjarpanji-1 adalah sumur explorasi yang dibor dengan target Formasi Kujung yang berumur Oligocene Akhir sampai Miocene Awal. Formasi Kujung adalah suatu reservoir karbonat besar di Jawa Timur, baik di daratan P. Jawa maupun di Laut Jawa dan Selat Madura, yang telah terbukti mengandung minyak dan gas. Sumur Banjarpanji-1 terletak di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, sekitar 30 km di selatan kota Surabaya. Pada waktu pemboran dilakukakan sumur tersebut berada di wilayah Blok Brantas dengan Lapindo Brantas Inc. sebagai operator dan pemilik 50% participating interest dari blok tersebut. Selain Lapindo, participating interest blok Brantas juga dimiliki oleh PT. Medco E&P Brantas sebesar 32% dan Santos Brantas Pty Ltd. Sebesar 18%. Lapindo Brantas, Inc. juga mengoperasikan tiga (3) lapangan gas yang berada di blok Brantas ini, yaitu lapangan gas Wunut, Tanggulangin dan Carat. Gas dari lapangan tersebut disalurkan untuk memenuhi konsumer energi di Jawa Timur.
Sejak awal sumur Banjarpanji-1 telah diketahui sebagai sumur HTHP (High Temperature High Pressure) yang berarti sumur yang tidak mudah untuk di bor. Oleh karenanya perencanaan dibuat matang, dimulai sejak setahun sebelum dilakukan operasi dan ditambah sumur offset untuk meyakinkan keberhasilan serta keamanan operasi. Untuk Banjarpanji-1, sumur offset yang penting adalah :
-
Porong-1, sekitar 7 km arah timur laut.
-
Wunut-2, 2 km arah barat.
-
KE 11C dan KE 11E , 30 km arah timur laut.
-
BD-1 dan BD-2, kurang lebih 50 km arah arah timur laut.
Banjarpanji-1 adalah sumur yang telah direncanakan secara aman dan dibor secara baik mengikuti ‘industry best practice’, yang ketat sekelas pemboran dilepas pantai (Singh and Dusseault, 2007). Operasi pemborannya dilakukan oleh personel pemboran yang berpengalaman serta didukung oleh perusahaan jasa internasional yang berpengalaman dibidangnya. Sampai terjadi gempa pada tanggal 27 Mei 2006, pemboran sumur Banjarpanji-1 lancar tanpa ada kesulitan serius karena detail perencanaan, ‘risk management’ dan mitigasinya lengkap. LUSI Mud Volcano
Mud volcano merupakan hal yang umum terjadi di di bagian utara P. Jawa dan P. Madura (Satyana, 2008). Seperti halnya di tempat lain di dunia, mud volcano di P. Jawa dan Madura ini lokasinya terletak di puncak antiklin atau di daerah sesar. Mud vulcano Sangiran terletak di puncak kubah Sangiran yang terpotong oleh sesar naik, Bleduk Kuwu terletak di puncak antiklin Purwodadi (?), Api Kayangan di antiklin Bojonegoro (?), Pengangson terletak di puncak antiklin Kedungwaru, Pulungan dan Kalang Anyar di puncak antiklin Pulungan, Gunung Anyar di puncak antiklin Guyangan, LUSI di perpanjangan struktur antiklin Sekarputih dan Bujek Tasek (Madura).Mud volcano atau gunung lumpur adalah setiap extrusi pada permukaan lempung atau lumpur yang secara morfologi membentuk suatu kerucut yang diatasnya terdapat suatu telaga dan dibarengi dengan keluarnya air dan gas yang terdorong kuat, bahkan dengan ledakan (Kusumadinata, 1980). Seringkali gas yang diextrusikan ikut terbakar dengan demikian kenampakannya sangat menyerupai gunung api.
LUSI Mud Volcano yang lahir pada tanggal 29 Mei 2006, 10 km timurlaut dari Gunung Penanggungan, di dekat sumur eksplorasi Banjarpanji-1, di Desa Reno Kenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Lokasi ini terletak di bagian selatan cekungan back arc Jawa Timur yang terbentuk semenjak Oligocene- Early Miocene (Sribudiyani dkk, 2003), di ujung timur dari Jalur Kendeng (Genevraye & Samuel, 1972). Geologi daerah ini dicirikan oleh lapisan sedimen yang tebal yang diendapkan dalam waktu singkat, kaya kandungan organik dan hidro karbon, serta berada dalam pengaruh regim extensional (Willumsen and Schiller, 1994, Schiller et al, 1994), menyebabkan lapisan shale di daerah ini undercompacted serta tekanan lebih (overpressure) (Mazzini et al., 2007). Kondisi geologi Jawa timur ini sangat mirip dengan daerah yang banyak terdapat mud volcano seperti Cekungan Caspian dan Laut Hitam (Planke et al, 2004, dalam Mazzini,et al., 2007; Tingay, M., 2008).
LUSI mud volcano terletak di delta Brantas. Bagian utara delta ini dibatasi oleh perbukitan Kendeng sedangkan bagian selatan dibatasi oleh rangkaian gunung api. Singkapan batuan sedimen sangat jarang karena tertutup oleh alluvial dan pelapukan, oleh sebab itu singkapan batuan segar di penambangan batuan di Desa Karanggandang, 28 km ke arah baratlaut sumur Banjarpanji-1 (Kadar dkk, 2007) merupakan lokasi penting guna melengkapi data kolom stratigrafi sumur Banjarpanji-1. Stratigrafi sumur Banjapanji-1 dari atas ke bawah adalah sebagai berikut. Alluvial setebal 301 meter terletak tidak selaras di atas Formasi Pucangan, tebalnya mencapai 597 meter, terdiri dari selang selang batu pasir dan lempung mengandung fossil index foram plangton dan nanno berumur Pleistosene. Formasi Pucangan ini terletak selaras diatas Formasi Upper Kalibeng yang terdiri dari bluish gray clay, tebal mencapai 972 meter, berumur Pleistocene. Formasi Upper Kalibeng ini mungkin sekali terletak tidak selaras diatas batupasir volkanik (laharic sand) setebal 962 meter. Cutting di bagian bawah sumur ini, sampai ke kedalaman 9280 feet, tidak mengandung sama sekali fragment batugamping menunjukan bahwa Pemboran sumur Banjarpanji-1 belum mencapai batuan karbonat.
Berbeda dengan sumur Banjarpanji-1, pemboran sumur Porong, yang terletak 6.5 km timurlaut dari Banjarpanji-1 telah jelas menembus batuan karbonat. Formasi Upper Kalibeng yang berumur Pleistocene terletak tidak selaras diatas batugamping mengandung fosil coralline red algae, koral dan pecahan foraminifera. Analisa umur mutlak dengan metoda stronsium isotop (Sr) terhadap batu gamping ini menunjukan umur absolut 16 – 18 m.a. Miosen Awal, sehingga batu gamping tersebut kami korelasikan dengan Formasi Tuban yang tersingkap luas di Jawa Timur bagian barat yang menunjukan kisaran umur dari 15.2 m.a sampai dengan 20.8 m.a. berdasarkan analisa stronsium isotop (Sharaf, dkk, 2005). Sumber Panas, Lumpur, Air dan Gas
Pengukuran temperature lumpur dalam jarak 20 meter dari pusat semburan telah dilakukan berkali kali, menunjukan angka sekitar 970C (Mazzini, 2006, 2007, 2008). Temperatur lumpur persis di pusat semburan tak dapat dilakukan namun kemungkinan besar panasnya mencapai 1000C berdasarkan kondisi air yang terlihat mendidih dan mengeluarkan uap air. Down-hole measurements menunjukan bahwa gradient geothermal sumur Banjarpanji sangat tinggi, mencapai 420C/km. Tingginya gradient geothermal ini disebabkan karena Lusi hanya berjarak sekitar 25 km dari Gunung Arjuno-Welirang, bagian dari busur volkanik Jawa yang terbentuk semenjak zaman Plio-Pleistosene.
Lumpur yang menyembur keluar diketahui berasal dari lapisan shale yang di daerah ini terkenal dengan nama bluish gray clay dari Formasi Upper Kalibeng yang berumur Plio-Pleistosene. Korelasi antara lumpur dengan conto cutting dan side wall core dari sumur Banjarpanji-1 dari kedalaman 4000-6000 kaki didasarkan hal hal sebagai berikut:
-
Kesamaan kumpulan fosil foraminifera dan nanno, serta mengandung fosil index Globorotalia truncatulinoides dan Gephyrocapsa spp. yang menunjukan umur Pleistosene. Kumpulan foram benthosnya menunjukan bahwa sediment tersebut diendapkan di lingkungan laut dalam pada zona inner sampai middle neritic , mulai garis pantai sampai ke kedalaman 100 meter.
-
Komposisi kerogen lumpur mempunyai kesamaan dengan conto SWC sumur Banjarpanji-1 pada kedalaman 1870 meter.
-
Vitrinite reflectance pada grafik thermal maturirity dapat dikorelasikan dengan conto cutting dan SWC dari Banjarpanji-1 pada kedalaman 1700-2100 meter.
-
Komposisi mineral clay dari lumpur mempunyai kesamaan dengan conto SWC dari Banjarpanji-1 pada kedalaman 1615-1828 meter dimana kandungan illite-nya dalam campuran illite-smectite mencapai 65%.
Overpressured shale diketahui dari log , terbentuk karena maturation bahan organik serta kecepatan pengendapan sedimen yang sangat tinggi (Willumsen and Schiller, 1994; Schiller dkk, 1994), mencapai 2480 m/m.a (Kadar dkk, 2007).
Berbeda dengan Davies et al (2007) yang menyatakan bahwa air yang menyembur berasal dari karbonat Formasi Kujung, Mazzini et al (2007) berdasarkan data geokimia menyimpulkan bahwa air bertekanan tinggi berasal dari clay diagenetic dehydration di Formasi Upper Kalibeng. Air, bercampur dengan dilution dari air laut dan mungkin pula dengan air meteoric dan input dari lapisan batupasir yang porous pada kedalaman 1938-1946 m. Kesimpulan itu berdasarkan fakta sebagai berikut: Salinity 39% lebih kecil dari air laut, terdapat pengayaan B, Ca, Li, Na, Sr, Br namun pengurangan dalam unsure K, Mg, and SO4. Analisa air dengan menggunakan metoda isotop Oxygen ( d 180) dan Deuterium ( d D) yang dilakukan oleh Badan Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (2008) menyimpulkan bahwa sumber air LUSI berhubungan dengan magma. Berdasarkan data tersebut diatas Mazzini, 2008 menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
-
Temperatur air lebih besar dari 100 derajat C, keluar dari kedalaman lebih dari 1700 m.
-
High T gradient tinggi memungkinkan transformasi mineral dan geokimia pada kedalaman rendah.
-
Transformasi mineral clay terjadi antara kedalaman 1109-1838 m.
-
Sumber lumpur dapat dikorelasikan sedimen di sumur Banjarpanji-1 pada kedalaman 1615-1828 m.
Gas yang menyembur komposisi utamanya CO2, mencapai 93.7%, sedikit hydrocarbon termasuk methane serta campuran antara biogenic dan thermogenic gas hidrocarbon. Biogenic HC berasal dari lapisan shale yang belum matang, mungkin dari overpressured shale di kedalaman 1323-1871 meter sedangkan thermogenic berasal dari lapisan shale yang sudah matang, mungkin dari shale berumur Eosen. CO2 ditafsirkan berasal dari Low solubility of CO2 dalam air pada lapisan shale, pada temperatur diatas 100°C dan tekanan rendah.
Pemicu LUSI Mud Vulcano
Pada saat ini terdapat dua hipotesa tentang pemicu LUSI mud volcano telah dipublikasikan, yaitu hipotesa underground blowout dari sumur eksplorasi Banjarpanji-1 (Davies et. al 2007) dan hipotesa remobilisasi zona bertekanan tinggi (overpressured zone) melalui bidang sesar Watukosek berarah timurlaut-barat daya yang tereaktifikasi oleh kenaikan aktifitas tektonik dan gempa (Mazzini et.al. 2007). Perbandingan kedua hipotesa tersebut diringkaskan dalam tabel di bawah ini.
|
|
Hipotesa Underground Blowout |
Hipotesa Remobilisasi Overpressured Shale |
|
Asal usul |
Adanya kesalahan pemboran sehingga tekanan didalam sumur memecahkan batuan |
Proses alamiah seperti terjadinya lima (5) mud volcano lain disekitar sesar Watukosek. |
|
Sosialisasi
|
Tersosialisasi dengan baik mulai tahun 2006 |
Hipotesa dikemukakan sesudah analisa data pada tahun 2007 |
|
Kemungkinan dimatikan |
Mungkin |
Tidak mungkin |
|
Data pendukung
|
Proximity fisik, terjadi 200 m dari sumur Banjarpanji |
Proximity temporal, terjadi loss 7 menit estela gempa |
|
Lobang sumur tanpa casing mencapai 5600 ft. |
Terdapat deuterium yang berasal dari magmatik |
|
|
|
Dibuktikan dengan percobaan di laboratorium oleh Mazzini, 2008 |
|
|
Data penyangkal
|
Casing shoe masih utuh setelah ditest dan dilakukan logging |
Perlu dilakukan mapping dari sesar Watukosek |
|
Casing shoe sudah cukup dalam lebih dari 1000 m |
Gempa Yogya terlalu kecil dan/atau terlalu jauh untuk mereaktivasi sesar Watukosek. |
|
|
Sumur dalam keadaan terbuka tetapi lumpur tidak melalui sumur |
|
|
|
Analisis tekanan menunjukkan kekuatan batuan lebih kuat dari tekanan yang ada |
|
|
|
Peneliti |
Rubiandini (2006) |
Nawangsidi (2007) Mazzini et al (2007, 2008) Japan Groups (2007) Singh dan Dusseault (2007) Guntoro (2007) |
|
Published Papers |
Davies et al (2007) Rubiandini (2007) Davies et al (2008) Tingay et al (2008) |
Mazzini et al (2007) Sawolo et al (2008) Istadi et al (2008) |
Hipotesa Underground Blowout
Pada mulanya hampir semua ahli, baik geologist maupun ahli pemboran berpendapat telah terjadi insiden u nderground blowout. Juga tekanan yang ada begitu kuatnya sehingga dapat memecahkan batuan dari kedalaman lebih dari 1 km dibawah tanah dan menyemburlah lumpur kepermukaan. Laporan inilah yang pertama beredar dan tersosialisasi baik sehingga pada waktu itu hampir semua ahli mempercayainya. Fenomena underground blowout inilah yang dianut oleh beberapa ahli sampai saat ini, termasuk Dr. Rudi Rubiandini sebagai Ketua Tim Investigasi Independen yang ditunjuk oleh Departemen ESDM sebagai tim ahli pada kasus ini.
Dengan berjalannya waktu dan makin banyak data yang dianalisa terdapat beberapa kesenjangan dari teori ini dengan data primer maupun analisanya. Pendapat para ahli mulai bergeser dari keyakinan yang pertama. Sekarang hampir semua geoscientist mempercayainya sebagai fenomena mud volcano. Sebagai pemicunya para ahli rock mechanics percaya bahwa telah terjadi reaktivasi Sesar Watukosek yang merupakan saluran dari mengalirnya air kepermukaan tanpa harus memecahkan batuan.
Underground blowout adalah sebuah insiden dimana tekanan didalam sumur sedemikian tingginya sehingga melebihi kekuatan batuan. Tekanan yang tinggi tersebut berhasil memecahkan batuan disekitar sumur dan keluarlah fluida dari dalam sumur keformasi sekelilingnya. Pada keadaan yang ekstrim tekanan tersebut dapat memecah batuan sampai kepermukaan.
Biasanya insiden seperti ini terjadi pada waktu casing dipasang masih sangat dangkal karena pada kedalaman yang sangat dangkal, kekuatan batuan belum terlalu kuat. Dua contoh dari underground blowout yang klasik adalah sumur Union Oil di Santa Barbara (kedalaman casing sekitar 80 m) pada tahun 1969 dan Unocal Indonesia di lapangan Attaka (kedalaman casing sekitar 170 m) pada tahun 1997. Underground blowout yang terjadi dilapangan Attaka adalah gas, jadi tidak mengakibatkan polusi besar dan dalam waktu sekitar tiga bulan mati dengan sendirinya tanpa dilakukan relief wells . Sekedar catatan, kedalaman casing di Banjarpanji adalah 1091 m.
Seperti diutarakan diatas, fakta dari lapangan tidak mendukung terjadinya underground blowout, termasuk :
-
Dilakukan pengetesan pada sumur Banjarpanji sesudah terjadi semburan lumpur dan ternyata casing shoe pada kedalaman 3,580 ft (1091 m) masih dalam keadaan utuh dan tidak dipecahkan oleh tekanan sumur.
-
Sonan dan temperature log yang dilakukan tidak menunjukkan adanya aliran disekitar Casing Shoe . Hal ini merupakan buti tambahan bahwa casing shoe masih dalam keadaan utuh.
-
Problem kick dibunuh dalam waktu 4 jam dan sumur terbuka lebar sesudahnya. Ini merupakan jalan tol yang ternyata tidak ada lumpur yang mengalir melalui sumur.
-
Analisis tekanan yang dilakukan tidak mendukung terjadinya underground blowout

Fig X: Analisis tekanan didalam sumur
Tekanan yang ada didalam lobang sumur (garis biru) masih berada dibawah kekuatan formasi (garis merah) menunjukkan bahwa formasi lebih kuat dari tekanan fluida. Sehingga lobang sumur masih dalam kadaan aman.
Hipotesa Reaktivasi Sesar Watukosek
Menyusul terjadinya Gempa Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006, secara tiba tiba operasi pemboran berobah. Terjadilah problem loss – kehilangan lumpur pemboran tujuh menit sesudah gempa dan loss kedua yang sangat besar sesudah terjadinya beberapa gempa susulan. Problem loss tersebut dapat diatasi tetapi berubah menjadi problem kick – adanya fluida yang masuk kedalam sumur. Inipun dapat diatasi dengan baik. Dan selanjutnya terjadilah semburan lumpur dan terbentuklah sebuah mud volcano.
Hipotesa reaktivasi Sesar Watukosek mengatakan bahwa reaktivasi dari Sesar Watukosek yang sebelumnya sealing sehingga menjadi non-sealing . Reaktivasi ini terjadi karena adanya gaya tektonik yang sangat besar pada tanggal 27 Mei 2006. Gaya tektonik inilah yang menimbulkan gempa di Yogyakarta, Gunung Merapi yang menjadi lebih aktif dan Gunung Semeru yang tiba tiba berubah menjadi aktif. Beberapa ahli, terutama dari bidang rock mechanic, mempercayai bahwa gaya ini pulalah yang telah me-reaktivasi Sesar Watukosek.
Dengan berubahnya Sesar Watukosek menjadi non-sealing maka terbentuklah sebuah konduit untuk fluida air dari kedalaman menembus sampai kepermukaan tanpa harus memecahkan batuan dari kedalaman yang lebih dari 1 km tadi. Air ini pada kedalaman tertentu bercampur dengan batuan lempung dan terbentuklah lumpur sebagai bahan dasar dari Mud Volcano.
A. Mazzini dengan modelnya menunjukkan bahwa dengan getaran yang sangat kecil, suatu pressurized sand box yang dahulunya merupakan suatu formasi yang sealing dapat berubah menjadi konduit yang bisa menyalurkan fluida dari lapisan yang cukup dalam. Dalam ilmu rock mechanic proses reaktivasi dari sesar ini cukup dimengerti dan banyak diteliti dalam hubungannya dengan gempa bumi atau gaya tektonik. Di Sidoarjo, gaya tektonik inilah yang memberikan getaran pada Sesar Watukosek sehingga menjadi non-sealing dan membentuk satu konduit untuk air mengalir ke permukaan.
Beberapa ahli mengatakan jarak dari Yogyakarta terlalu jauh untuk dapat mereaktivasi Sesar Watukosek. Yang perlu diingat adalah bukanlah gempa yang mereaktivasi, melainkan gaya tektonik yang merupakan lempeng bukan sebagai titik. Fakta di lapangan menunjukan terreaktivasinya Gunung Semeru yang lebih jauh lagi dari Yogyakarta dan terjadinya loss dalam waktu 7 menit dari waktu terjadinya gempa.

Dan terjadinya loss yang besar ( complete loss circulation ) yang mengikuti terjadinya dua gempa susulan yang cukup besar.

Para Ahli mempercayai bahwa mekanisme samalah yang telah membentuk paling sedikit ada lima mud volcano di sekitar Sesar Watukosek. Semua mud volcano tersebut terbentuk pada kurun waktu geologis yang masih baru, terbukti dengan adanya prasasti kuno yang diketemukan disekitar Sidoarjo mengenai terbentuknya mud volcano di sana (Awang…….)
Setelah terjadinya semburan lumpur, dilakukan beberapa tes didalam sumur, yang menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara sumur dengan semburan lumpur tersebut. Data data pengetesan ini dipelajari oleh beberapa ahli pengeboran dan rock mechanic (Singh dan Dusseault, 2007) yang menyimpulkan beberapa kesimpulan:
-
Operasi pemboran telah dilakukan dengan baik dan bukan merupakan pemicu dari terbentuknya mud volcano
-
Menolak hipotesa underground blowout . Kesimpulan ini tidak benar karena diambil terlalu tergesa gesa sebelum dilakukan studi dan analisa dari data yang cukup.
-
Menyimpulkan bahwa yang terjadi adalah reaktivasi dari Sesar Watukosek – suatu fenomena yang sering terjadi dan diteliti dengan baik oleh ahli rock mechanic . Sesar Watukosek berubah menjadi non-sealing dan berfungsi sebagai konduit dari air untuk keluar.
Para ahli pemboran setelah melihat bukti bukti dilapangan dan melakukan analisa tekanan juga berkesimpulan bahwa sangat diragukan telah terjadi suatu underground blowout pada sumur Banjarpanji. Fakta dan analisa dari data pengeboran tidak mendukung hipotesa dini terjadinya underground blowout .
Pendapat yang sama juga dikatakan oleh ahli ahli geologi (a.l., Guntoro, 2007; Mazzini, 2007). Penelitian mereka menunjukkan bahwa proses terbentuknya mud volcano adalah suatu proses alami dan terjadi disuatu daerah yang memang pempunyai tendensi kuat terbentuknya mud volcano disitu. Perlu diingat bahwa disekitar Sesar Watukosek terdapat sedikitnya lima mud volcano yang terbentuk secara alami.
Dampak dari pernyataan bahwa tidak terjadi suatu underground blowout adalah aliran air maupun lumpur tersebut tidak melalui sumur Banjarpanji. Wacana relief well selalu beranggapan bahwa aliran fluida melalui lobang sumur yang mempunyai geometri tertentu sehingga dapat terbentuk Friction Pressure dan Hydrostatic Pressure yang cukup sehingga dapat mengimbangi tekanan dari fluida yang berasal dari bawah tanah. Tanpa adanya Hydrostatic Pressure yang cukup, fluida baik air maupun lumpur akan terus mengalir sehingga semburan lumpur tidak bisa dimatikan.
Dapat disimpulkan bahwa wacana untuk menghentikan semburan lumpur ataupun mud volcano dengan memakai relief well adalah upaya sia sia. Fenomena yang terjadi bukanlah suatu underground blowout, dimana fluida tidak melalui lobang sumur sehingga upaya mematikan aliran tidak akan bisa menghasilkan tekanan hidrostatis yang cukup.
Diskusi
Perkiraan adanya underground blowout disumur Banjarpanji-1 yang selama ini dituding sebagai penyebab (Davies et.al 2007 and Tingay et.al 2008), masih kontroversial karena berbagai data dan fakta yang bertentangan.
Setelah berbagai data pemboran sumur dianalisa, ternyata didalam sumur tidak terjadi underground blowout . Tekanan didalam sumur terlalu rendah untuk dapat mengakibatkan rekahan panjang dan menahan rekahan tersebut agar tetap terbuka agar lumpur bisa keluar. Sumur pun, yang merupakan jalur termudah ( least resistance path ) bagi keluarnya lumpur dalam keadaan mati, tidak mengeluarkan lumpur, cairan serta gas. Padahal sejak saat awal LUSI sudah mengeluarkan lumpur dengan debit yang sangat tinggi sebesar 50.000m 3 atau lebih dari 300.000 bbl/day, posisi BOP ( blowout preventer ) dalam keadaan terbuka. Aktifitas pemboran masih dapat dilakukan seperti fishing, cementing dan circulating dll.
Kenaikan aktifitas tektonik sebagai penyebab munculnya LUSI ditunjang oleh adanya kenaikan aktifitas Gunung Semeru dan Merapi 3-hari setelah gempa Yogya tanggal 27 Mei 2006, kehilangan lumpur pemboran (loss circulation) di sumur Banjarpanji-1 10 menit setelah gempa dan total loss sirkulasi setelah 2 kali aftershock . Thermal data yang direkam oleh MODIS ( Moderate Resolution Imaging Spectrometer ) menunjukan adanya kenaikan aktifitas gunung sebesar 2-3 kali dibahas oleh Harris and Ripepe (2007).
Pada saat awal semburan debit lumpur setara dengan sepertiga produksi minyak Indonesia, dimasa puncaknya debit melebihi produksi minyak Indonesia sejuta barel perhari. Kemungkinan sangat kecil bagi sebuah sumur untuk dapat mengeluarkan debit yang ekstrim tersebut, dibutuhkan parameter aliran dan reservoir seperti permeabilitas lebih besar dari 3500 mD dengan radius sumur 2286 kali (sekitar 1.4 km diameter) dan terekspos pada Formasi Kujung setebal 3200 kali. Simulasi debit ini dilakukan dengan rumus Radial Equation Darcy Law (Nawangsidi, 2007). Sebagai gambaran permeabilitas tertinggi pada sumur produksi Formasi Kujung sebesar 22.5 mD, jadi untuk mencapai debit LUSI dibutuhkan parameter aliran 140 kali lebih besar.
Tanggal 29 Mei 2006, pada saat pertama kali terjadi semburan, telah dilakukan injectivity test disumur untuk mengetahui apakah semburan berhubungan dengan sumur. Setelah lumpur pemboran dipompakan 2 kali, tidak ada tanda2 penurunan tekanan seperti layaknya ban bocor. Tekanan bertahan pada 900 psi. Injectivity test berikutnya dilakukan pada hari berikutnya sebelum melakukan penyemenan dengan injection pressure sebesar 370 psi dengan rate of 2.5 bbl/menit yang juga menunjukan tidak ada hubungan antara semburan dengan sumur.
Kunci untuk menentukan apakah formasi pecah adalah dengan perhitungan apakah telah terjadi underground blowout yang mengakibatkan tekanan tinggi yang memecah formasi pada titik terlemah. Perhitungan dengan menggunakan nilai Shut In Casing Pressure, Fluid density, Bottom Hole Pressure dan Leak Off Test Data . Perhitungan ini haruslah mengunakan data-data yang terbaca disumur serta fakta yang terjadi dilapangan. Dari perhitungan ini terungkap bahwa formasi tidak pecah.
Salah satu upaya untuk menyelidiki apakah ada hubungan antara semburan dan sumur adalah saat dilakukan operasi snubbing dan re-entry pada sumur lama dengan melakukan sonan dan temperature logging . Jika terjadi underground blowout maka formasi akan pecah pada titik terlemah di casing shoe dan lumpur akan mengalir dibelakang casing. Namun hasil logging sonan tidak menunjukan adanya “noise” seperti lazimnya jika ada aliran fluida dibelakang casing dan tidak ada kelainan “anomaly” temperatur yang diharapkan jika memang telah terjadi underground blowout .
Jika semburan berhubungan dengan sumur dan mengalir lewat sumur maka beberapa bulan kemudian setelah semburan semakin membesar, maka seharusnya lubang sumur yang belum terpasang casing menjadi besar sekali tergerus aliran fluida yang sangat besar. Teori ini sering diungkapkan oleh kelompok underground blowout , dimana fluida mengalir dari Formasi Kujung mengerus lempung di Formasi Kalibeng, memecah formasi dan membawa lumpur hasil gerusan. Jika memang demikian yang terjadi, maka fish yang berada dalam lubang harusnya sudah jatuh, tidak terjepit lagi karena lubang telah menjadi sangat besar. Faktanya pada saat melakukan operasi snubbing pada akhir Juni 2006 sampai akhir operasi re-entry dipertengahan Agustus 2006, “Fish” tidak bergeming, tidak jatuh dan tetap pada posisi saat pertama kali ditinggalkan.