Pengaliran Lumpur ke Laut Melalui Kali Porong

Dipublikasikan tanggal .

1.  Pengaliran Lumpur ke Laut Melalui Kali Porong

Pengaliran Lumpur ke Kali Porong merupakan bagian utama Rencana Induk Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, dan tugas paling pokok sejak awal berdirinya BPLS, mengingat dampak yang sangat riskan apabila semburan lumpur dibiarkan menumpuk di kolam yang kapasitasnya terbatas.  Sejak pertengahan 2009 pengaliran yang tadinya ditangani PT. Lapindo Brantas, dialihkan untuk ditangani BPLS menggunakan dana APBN (Perpres No 40/2009).  Sejak TA 2009, Bapel BPLS telah mengalokasikan sekitar Rp. 500 miliar untuk pengaliran lumpur ini dan telah berhasil mengisolir luapan lumpur dalam kolam penampungan, sekaligus menjaga infrastruktur di sekitar kolam lumpur tetap berfungsi normal hingga saat ini.

Fungsi utama rel KA dan jalan arteri Porong lama yang sangat vital sebagai urat nadi utama transportasi dan perekonomian di Jawa Timur membuat Bapel BPLS tidak ada pilihan lain kecuali secara “all out” menjaga agar tanggul lumpur tidak kolaps.  Di lain pihak, Bapel BPLS telah mendorong semua pihak terkait untuk segera merelokasi rel KA dan jalan tol Porong lama.  

Untuk melaksanakan kegiatan pengaliran lumpur ini, BPLS mengoperasikan 6 kapal keruk dengan kapasitas mesin 1.000 – 1.300 HP/ unit dengan kapasitas volume buangan 0,8 m3/det/unit, tergantung jarak antara posisi kapal keruk ke Kali Porong.  Dana penyediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan pelumas merupakan komponen pembiayaan yang paling besar dari kegiatan ini. Kegiatan pembuangan lumpur ini merupakan kegiatan yang cukup rumit dengan berbagai sub-item kegiatan yang sangat variatif. Kegiatan-kegiatan lain yang menyertai antara lain seperti: mereposisi kapal keruk, reposisi perpipaan, pemeliharaan pipa yang bocor/ rusak, perbaikan mesin kapal, penyediaan spareparts, dan lain sebagainya.   

Sifat bencana yang “berkelanjutan” dalam arti semburan lumpur yang terus menerus berlangsung tidak memungkinkan kegiatan ini berhenti/vacum dalam kurun waktu yang terlalu lama.  Kondisi demikian yang membuat BPLS pada TA 2009 s/d 2011 tidak memiliki pilihan selain menunjuk langsung penyedia jasa yang diyakini memiliki pengalaman yang cukup, untuk menjaga kegiatan yang berkesinambungan.  Penunjukan langsung ini pada saat itu “harus” dilakukan mengingat  volume semburan yang masih sangat tinggi (sekitar 75.000 -100.000 m3/hari) membuat BPLS tidak berani mengambil resiko dengan melakukan pelelangan terbuka yang memakan waktu lama.  Baru tahun 2012 dan 2013 BPLS berani melakukan lelang terbuka (melalui e-procurement) meskipun peminatnya sangat sedikit (maksimun 3 peminat) dan yang memasukkan penawaran cuma 2 peserta.

Dalam TA 2013 berhasil dialirkan lumpur dan padatan lumpur dengan total volume sekitar 30 juta m3 (slurry atau campuran lumpur dan air),  atau setara sekitar 10 juta m3 padatan endapan.  Volume pembuangan lumpur yang  besar ini dimungkinkan karena pembuangan ke laut lepas bisa dilakukan dengan memanfaatkan energi arus Kali Porong yang sangat besar dengan kapasitas sekitar 1.600 m3/detik.  Dengan kondisi energi arus sungai yang begitu besar, pengaliran lumpur melalui Kali Porong tidak sampai mengganggu fungsi Kali Porong sebagai pengendali banjir Sungai Brantas. 

Kegiatan pengaliran lumpur ke Kali Porong dari tahun 2009 sampai dengan 2013 berhasil mengamankan infrastruktur jalan arteri lama dan rel KA di sisi barat luar tanggul utama, sekaligus mengamankan jalur transportasi utama Jawa Timur dari Surabaya ke arah selatan dan timur.  Pada saat ini pembangunan jalan tol (pengganti yang tenggelam oleh luapan lumpur) sedang giat dikerjakan, sedangkan relokasi rel KA belum ada aktivitas yang signifikan.

Target dan Realisasi slurry

 

Target dan Realisasi Volume Lumpur (slurry) yang Dialirkan ke Kali Porong

Rendahnya capaian volume pangaliran lumpur pada tahun 2012 secara umum disebabkan oleh terganggunya dan bahkan berhentinya sama sekali pelaksanaan pekerjaan di lapangan akibat dari adanya demonstrasi dan pemblokiran area kerja oleh eks warga yang tinggal di wilayah yang masuk pada  Peta Area Terdampak 22 Maret 2007 (warga terdampak PAT 22 Maret 2007) selama lebih kurang 6 (enam bulan) terhitung sejak bulan April 2012, sebagai akibat dari belum tuntasnya pembayaran jual beli tanah dan bangunan yang dilakukan oleh PT. Minarak Lapindo Jaya (PT. MLJ) - dari Lapindo Brantas. Dengan pemblokiran warga tersebut, maka area operasional pengaliran/pembuangan lumpur ke Kali Porong dan peralatan yang ada tidak dapat diakses oleh para pekerja. Kendala lain yang sering menghambat adalah tenggelam dan rusaknya kapal keruk tertentu, kekurangan air untuk mengaduk-aduk lumpur padat agar segera menjadi lumpur cair, serta bocornya beberapa pipa pembawa buangan lumpur ke Kali Porong.

 

2.  Perencanaan Operasi

 

Perencanaan Operasi memonitor dan mencatat pusat semburan lumpur (volume, tinggi semburan/”kick”) dan menangani survey bidang deformasi geologi (permukaan dan di bawah permukaan) yang berupa amblesan (land-subsidence), pergeseran (vertical/horizontal movement),  dampak terhadap lingkungan, monitoring terhadap kandungan kimiawi lumpur, dan memonitor terhadap semburan-semburan kecil (gas, air, ataupun lumpur), kualitas udara. Sebagian dari kegiatan ini dilakukan melalui kerjasama dengan beberapa instansi seperti Badan Geologi di Kementerian ESDM dan beberapa Perguruan Tinggi (Universitas Brawijaya Malang dan UPN "Veteran" Yogyakarta). 

Kegiatan Perencanaan Operasi dimaksudkan untuk memahami perilaku deformasi geologi di kawasan sekitar semburan, perilaku semburan lumpur melalui pengukuran volume lumpur, kandungan kimia material semburannya. Melalui pengukuran fluktuasi volume dalam kolam lumpur dari waktu ke waktu secara bulanan, akan diketahui volume semburan setelah ditambah/dikurangi dengan angka volume buangan lumpur ke Kali Porong, diperkuat dengan data hasil analisa pengolahan citra satelit tiga dimensi yang dikonversikan menjadi angka volume lumpur.

3.  Survey Geologi Tahun 2013

 

 

Dari hasil analisa data pengukuran TTG dan BM sejak bulan Januari 2013 sampai dengan bulan Desember 2013 diperoleh gambaran adanya kestabilan pergerakan horizontal maupun vertikal di luar PAT 22 Maret 2007 (PAT), sedangkan dari hasil pengolahan data survey GPS diperoleh informasi mengenai adanya pergerakan tanah di luar PAT pada periode Oktober 2013, namun sampai Desember 2013 pergerakan sudah mengalami kestabilan, dengan nilai pergerakan berkisar satu milimeter sampai level satu centimeter. Meskipun demikian, pada area tertentu ada yang mengalami pergerakan yang relatif besar yang terjadi di radius 1 km dari pusat semburan, dengan pergerakan terjadi sampai level 4 centimeter. Semua patok pengamatan bergerak ke pusat semburan atau pola konsentrik dengan pola pergerakan vector bergerak menuju ke pusat titik pergerakan terjadi sampai level 4  centimeter.

Peta Topografi Lumpur

 

 

Peta Topografi Lumpur di dalam kolam pada Desember 2013

Peta kontur yang dihasilkan dari survey geologi di atas permukaan lumpur, dapat diamati elevasi pusat semburan pada akhir tahun 2013 berada pada elevasi +17,04 meter di atas permukaaan laut (dpl) dan volume lumpur (yang dilingkupi kontur) diperkirakan sebanyak 40,1 juta m3.

Elevasi Puncak Gunung Lumpur

 

Elevasi Puncak Gunung Lumpur

 Volume Lumpur dalam Kolam Tampungan

 

 Volume Lumpur dalam Kolam Tampungan

 

 

Dari data profil cross dan longitudinal tanggul pengukuran Teristris Waterpass dan Total Station, bahwa permukaan lumpur dalam kolam mengalami kenaikan mulai diawal tahun sampai Oktober 2013, namun pada Desember 2013 mengalami penurunan. Dengan ketinggian elevasi puncak gunung lumpur + 17,04 m dpl, dan sementara pusat semburan masih saja memuntahkan lumpur dengan perkiraan sebanyak kurang lebih 30.000 m3 per hari, maka di waktu yang akan datang hal tersebut akan sangat mempengaruhi tingkat kestabilan/keamanan tanggul penahan lumpur.

Terkait hal tersebut, dan untuk mengurangi beban tekanan lumpur dalam kolam ke tanggul penahan lumpur, direncanakan mulai tahun 2014 pekerjaan pengaliran lumpur ke Kali Porong akan mendapatkan perhatian yang lebih dan volume pengalirannya ditingkatkan sehingga tingkat kestabilan tanggul akan tetap dalam keadaan AMAN.

Dari pemantauan tingkah laku gunung lumpur dan pemantauan bawah permukaan tanggul diperoleh hasil bahwa tanggul titik 80-81 memiliki elevasi paling rendah dibandingkan lokasi lainnya, dan lokasi tersebut berbatasan langsung dengan tampungan air di dalam kolam lumpur. Demikian juga halnya dengan tanggul titik 21A-71, karena wilayah tersebut sering mengalami deformasi geologi terbesar dan di bagian luar terdapat infrastruktur vital.

Pola-pola retakan di bawah permukaan masih tampak sepanjang tahun 2013 di sisi utara tanggul, yang merupakan lokasi paling rawan dari rangkaian tanggul penahan lumpur Sidoarjo. Anomali juga tampak pada tanggul sisi barat dari P-21a (Pos Pantau BPLS) hingga P-71 (eks pabrik "Osaka"). Penampang Geolistrik pada Januari 2013 menunjukkan pada sepanjang tanggul tersebut banyak infiltrasi air sampai ke permukaan tanggul. Kondisi tersebut juga diperburuk dengan deformasi yang relatif besar pada titik "Jembatan Putul" (eks jembatan tol Porong). Pengamatan retakan pada bulan Oktober 2013 menujukkan bahwa retakan yang terjadi hanya mencapai kedalaman 6 meter saja, karena lapisan di bawah kedalaman tersebut sudah menyatu dan membentuk lapisan baru sehingga tidak tampak pola retakan di bawah kedalaman 6 meter.

 Selama tahun 2013 telah terjadi longsoran lereng gunung lumpur sebanyak 8 (delapan) kali, namun besaran longsoran tidak mengganggu pelaksanaan pengaliran lumpur ke Kali Porong. Hal tersebut dikarenakan permukaan gunung lumpur yang jaraknya radius 300 ~ 500 m umumnya sudah mengering sehingga daya geser internal lumpur sudah terbentuk.

Kondisi-kondisi tersebut merupakan salah satu alasan mengapa lokasi-lokasi tanggul tersebut perlu untuk dipantau secara kontinyu.

Peta tanggul penahan lumpur Sidoarjo

 

Peta tanggul penahan lumpur Sidoarjo disertai dua lintasan pengamatan pada lokasi yang rawan